Abu Al-Jauzaa' :, 22 April 2009
Sehabis shalat ‘Ashar di masjid kemarin, saya berjalan bersama seorang teman ketika pulang menuju ruangan kantor. Pada waktu itu kami sempat membicarakan tentang ‘denda’ 1 dinar atau ½ dinar bagi mereka (laki-laki) yang berjima’ dengan istrinya saat haidl belum selesai – akibat ketidaktahuannya. Akhirnya, pembicaraan pun berakhir ketika pintu lift terbuka dan salah seorang dari kami keluar menuju ruangan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan fatwa Lajnah Daaimah yang berkaitan dengan itu. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Pertanyaan :
“Seseorang menjima’i/mencampuri istrinya dalam keadaan haidl atau telah suci dari haidl/nifas namun belum mandi – karena ketidaktahuannya; apakah baginya ada kaffarat ? dan berapa besarnya ? Apabila istrinya hamil dari hasil jima’ tersebut, apakah anak yang dilahirkan darinya disebut anak haram ?”.
Jawab :
Alhamdulillahi wahdah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa rasuulihi wa aalihi wa shahbihi…wa ba’d :
Mencampuri wanita haidl hukumnya haram berdasarkan firman Allah ta’ala :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” [QS. Al-Baqarah : 222].
Barangsiapa yang melakukan hal itu, wajib baginya untuk meminta ampun dan bertaubat kepada Allah. Dan hendaknya ia bershadaqah satu dinar atau setengah dinar sebagai kaffarat (denda) atas perbuatannya itu, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ashhaabus-Sunan dengan sanad jayyid, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada orang yang mendatangi (mencampuri) istrinya dalam keadaan haidl :
يتصدق بدينار أو نصف دينار
“Hendaknya ia bershadaqah dengan satu dinar atau setengah dinar” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Kitaabuth-Thaharah no. 137; An-Nasa’i, Kitaabuth-Thaharah no. 289; Abu Dawud, Kitaabun-Nikaah no. 2168; Ibnu Majah, Kitaabuth-Thaharah no. 640; Ahmad 1/363; dan Ad-Daarimiy, Kitaabuth-Thaharah no. 1105].
Ia bisa memilih satu dinar atau setengah dinar. Satu dinar itu sebanding dengan 4/7 juneh Saudi. Apabila juneh Saudi dikonversi semisal 70 real, maka ia harus mengeluarkan 20 real atau 40 real untuk dishadaqahkan kepada fakir miskin.[1]
Dan tidak boleh baginya untuk mencampuri istrinya setelah suci – yaitu berhentinya darah – sebelum ia mandi, berdasarkan firman Allah ta’ala :
وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ
“Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” [QS. Al-Baqarah : 222].
Allah tidak memperkenankan seseorang untuk mencampuri wanita haidl hingga darahnya berhenti dan kembali suci, yaitu dengan mandi. Barangsiapa yang mencampuri istrinya sebelum mandi, maka ia berdosa dan wajib baginya membayar kaffarat.
Apabila istrinya itu hamil dengan sebab jima’ saat ia haidl atau telah suci namun belum mandi, tidaklah anaknya tersebut disebut anak haram. Bahkan ia merupakan anak yang sah menurut syari’at.
Wabillaahit-tafiiq, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Ketua : ‘Abdul-‘Aziiz bin Baaz; Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifiy; Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayaan; Anggota : ‘Abdullah bin Qu’uud.
[diterjemahkan oleh Abul-Jauzaa’ dari Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah 5/398-400 – Mauqi’ Ruuhil-Islaam, Al-Ishdaaruts-Tsaaniy].
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Apabila 1 (satu) dinar itu sama dengan 4,85 gram emas 21 karat dengan asumsi harga per gramnya Rp 200.000,-; maka kaffarat yang harus dibayarkan – jika dikonversi dalam rupiah – sebesar Rp 970.000,- atau Rp 485.000,-. – Abul-Jauzaa’.
Tuesday, June 30, 2009
Thursday, June 11, 2009
Ludah ke kiri tiga kali
MIMPI dialami semua orang. Bezanya ada yang mengalami mimpi baik dan buruk. Mimpi buruk kadangkala menghantui hidup seseorang, lebih-lebih lagi ia menggambarkan keadaan yang mengerikan dan menakutkan.
Justeru, bagi seseorang yang bermimpi buruk, hendaklah bertindak seperti berikut:
• Meludah ke kirinya tiga kali.
• Meminta pertolongan kepada Allah daripada godaan syaitan dan mimpinya yang dahsyat, tiga kali.
• Membalikkan tubuh (mengubah kedudukan).
• Tidak menceritakan mimpi itu kepada orang lain.
• Mengambil wuduk dan bersolat, sekiranya mahu.
Berhubung dengan mimpi, Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: "Mimpi yang baik adalah daripada Allah, sedang mimpi (buruk) adalah daripada syaitan. Apabila seseorang antara kamu bermimpi yang disenangi, janganlah dibicarakan kecuali kepada orang yang mendengarnya." (Hadis Riwayat Muslim).
Justeru, bagi seseorang yang bermimpi buruk, hendaklah bertindak seperti berikut:
• Meludah ke kirinya tiga kali.
• Meminta pertolongan kepada Allah daripada godaan syaitan dan mimpinya yang dahsyat, tiga kali.
• Membalikkan tubuh (mengubah kedudukan).
• Tidak menceritakan mimpi itu kepada orang lain.
• Mengambil wuduk dan bersolat, sekiranya mahu.
Berhubung dengan mimpi, Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: "Mimpi yang baik adalah daripada Allah, sedang mimpi (buruk) adalah daripada syaitan. Apabila seseorang antara kamu bermimpi yang disenangi, janganlah dibicarakan kecuali kepada orang yang mendengarnya." (Hadis Riwayat Muslim).
Sikap bakhil nafi kesempurnaan iman
SETIAP orang berasakan dirinya tidak bakhil, walaupun pada pandangan dan ukuran orang lain dia sebenarnya bersifat demikian, sehingga lupa untuk berzakat, bersedekah, memberikan belanja pada keluarga dan ibu bapa.
Malah, dia mengatakan dirinya bukan seorang yang kikir, tetapi cuma berhemat. Justeru, dia menyedekahkan pakaian yang lusuh kepada orang lain dan cukup berkira untuk berbelanja, khususnya kepada orang sekelilingnya.
Tetapi suka atau tidak, mereka yang tidak menunaikan tanggungjawab seperti di atas atau masih menunaikannya, namun dengan rasa berat hati seperti contoh terbabit sebenarnya tergolong dalam golongan yang bakhil.
Sifat bakhil sangat merugikan dan antara keburukannya ialah:
• Dibenci Allah. Kebencian Allah adalah sebab kepada kesempitan dan kesusahan.
• Sifat bakhil bukan sifat mukmin dan menafikan kesempurnaan iman.
• Menampilkan suatu kebodohan. Tabiat manusia berasa benci dan jijik kepada orang bakhil dan kikir. Ini adalah bukti semula jadi kejinya sifat bakhil. Oleh itu, orang yang sanggup bersifat bakhil adalah suatu kebodohan.
• Orang bakhil dibenci dan dikeji manusia, terutama di kalangan ahli ilmu dan mereka yang berakhlak mulia. Bahkan orang bakhil juga tidak disukai di kalangan mereka sendiri.
• Dengan memerhatikan keadaan dan kehidupan orang bakhil, dapat disimpulkan yang sifat itu tiada kebaikannya. Cuma yang ada hanya keburukan, kedukaan dan kesusahan yang mengakhiri hidupnya.
Orang tua-tua mengungkapkan: "Kikir itu pada hakikatnya adalah fakir sekalipun banyak harta simpanannya dan pemurah itu pada hakikatnya kaya walaupun ia tidak berpunya."
• Orang bakhil menjadi bahan cemuhan sewaktu hidupnya, bahkan selepas kematiannya. Harta yang disimpan tanpa dibelanjakan itu akan ditinggalkan. Sehinggakan mereka yang berhak mendapatnya tidak akan memujinya, tetapi akan menyumpah dan mencemuhnya. Malangnya nasib orang bakhil, di dunia dicela, di akhirat diseksa.
• Orang bakhil biasanya akan sedar mengenai akibat buruk dan kebodohannya, bahkan kerugiannya apabila ajalnya hampir.
Pada waktu itu, dia cuba menebus kebodohannya yang lalu dengan mewasiatkan harta ditinggalkan untuk derma amal kebajikan. Tetapi mungkin ahli keluarganya tidak akan mengendahkannya.
• Orang bakhil akan diseksa di akhirat, iaitu dengan dikalungi lehernya semua barang yang dia kikir. Dahinya dan belakangnya akan dibakar dengan emas dan perak yang disimpan tanpa dikeluarkan pada jalan Allah.
• Sifat bakhil kerana takutkan kefakiran dan kemiskinan adalah tipu daya syaitan yang menjanjikan kekayaan, sedangkan pada hakikatnya bakhil itu adalah kemiskinan.
Malah, dia mengatakan dirinya bukan seorang yang kikir, tetapi cuma berhemat. Justeru, dia menyedekahkan pakaian yang lusuh kepada orang lain dan cukup berkira untuk berbelanja, khususnya kepada orang sekelilingnya.
Tetapi suka atau tidak, mereka yang tidak menunaikan tanggungjawab seperti di atas atau masih menunaikannya, namun dengan rasa berat hati seperti contoh terbabit sebenarnya tergolong dalam golongan yang bakhil.
Sifat bakhil sangat merugikan dan antara keburukannya ialah:
• Dibenci Allah. Kebencian Allah adalah sebab kepada kesempitan dan kesusahan.
• Sifat bakhil bukan sifat mukmin dan menafikan kesempurnaan iman.
• Menampilkan suatu kebodohan. Tabiat manusia berasa benci dan jijik kepada orang bakhil dan kikir. Ini adalah bukti semula jadi kejinya sifat bakhil. Oleh itu, orang yang sanggup bersifat bakhil adalah suatu kebodohan.
• Orang bakhil dibenci dan dikeji manusia, terutama di kalangan ahli ilmu dan mereka yang berakhlak mulia. Bahkan orang bakhil juga tidak disukai di kalangan mereka sendiri.
• Dengan memerhatikan keadaan dan kehidupan orang bakhil, dapat disimpulkan yang sifat itu tiada kebaikannya. Cuma yang ada hanya keburukan, kedukaan dan kesusahan yang mengakhiri hidupnya.
Orang tua-tua mengungkapkan: "Kikir itu pada hakikatnya adalah fakir sekalipun banyak harta simpanannya dan pemurah itu pada hakikatnya kaya walaupun ia tidak berpunya."
• Orang bakhil menjadi bahan cemuhan sewaktu hidupnya, bahkan selepas kematiannya. Harta yang disimpan tanpa dibelanjakan itu akan ditinggalkan. Sehinggakan mereka yang berhak mendapatnya tidak akan memujinya, tetapi akan menyumpah dan mencemuhnya. Malangnya nasib orang bakhil, di dunia dicela, di akhirat diseksa.
• Orang bakhil biasanya akan sedar mengenai akibat buruk dan kebodohannya, bahkan kerugiannya apabila ajalnya hampir.
Pada waktu itu, dia cuba menebus kebodohannya yang lalu dengan mewasiatkan harta ditinggalkan untuk derma amal kebajikan. Tetapi mungkin ahli keluarganya tidak akan mengendahkannya.
• Orang bakhil akan diseksa di akhirat, iaitu dengan dikalungi lehernya semua barang yang dia kikir. Dahinya dan belakangnya akan dibakar dengan emas dan perak yang disimpan tanpa dikeluarkan pada jalan Allah.
• Sifat bakhil kerana takutkan kefakiran dan kemiskinan adalah tipu daya syaitan yang menjanjikan kekayaan, sedangkan pada hakikatnya bakhil itu adalah kemiskinan.
Lima jenis sabar
SABAR adalah satu sifat manusia. Ia bererti menahan dan menanggung diri daripada perkara yang tidak disukai Allah kepada yang disukai atau menahan dan menanggung diri daripada yang disukai nafsu kepada yang disukai Allah.
Berpandukan kepada pengertian itu, sabar adalah satu istilah yang mengandungi pelbagai makna dan nama.
Contohnya menahan diri di medan perang disebut berani (as-saja'ah), lawannya bacul (al-jubn), manakala menahan diri daripada suatu keinginan nafsu Arabnya disebut 'dabtun nafs' dan lawannya 'al-batr'.
Sabar adalah senjata terpenting manusia, lebih-lebih lagi diri manusia sentiasa menghadapi pelbagai ujian. Dengan sifat ini membolehkan manusia mengatasi ujian dan mencapai kejayaan.
Banyak nas yang memerintah kita bersifat sabar, antaranya bermaksud: "Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap sedia (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali-Imran:200)
Cendekiawan membahagikan sifat sabar kepada beberapa jenis, iaitu:
1. Sabar terhadap kesusahan dan bala bencana yang menimpa pada manusia biasa, bahkan di kalangan nabi.
Antara yang dirumuskan al-Quran ialah sabar dalam bentuk ini termasuklah bersabar dengan kefakiran atau kelaparan, bersabar terhadap kesakitan, ketika peperangan dan ketakutan, kerana kehilangan wang, kehilangan jiwa dan harta benda.
2. Sabar terhadap keinginan nafsu yang menjadi urusan syaitan. Antaranya sabar atas tarikan dan runtunan nafsu yang rendah dan hina, termasuk bersabar dari menurut perasaan marah.
3. Sabar terhadap kemewahan. Ini termasuk bersabar terhadap kenikmatan orang lain, seperti orang kafir dan golongan taghut yang pada lahirnya nikmat tetapi pada batinnya adalah azab.
4. Sabar terhadap ketaatan yang sememangnya banyak halangan. Nafsu itu tabiatnya liar dan tidak suka kepada pengabdian, malah malas pula untuk melaksanakan amal ketaatan.
Kesabaran ini memerlukan tiga peringkat:
• Sebelum dapat melaksanakan sesuatu ketaatan, perlulah memperbaiki niat dan ikhlas, sabar daripada riak yang merosakkan dan sabar untuk menguatkan keazaman.
• Ketika mengerjakan ketaatan, hendaklah sentiasa berjaga dan berwaspada daripada faktor yang boleh melemahkannya.
• Selepas mengerjakannya hendaklah bersifat sabar daripada melakukan suatu yang membatalkan amal ketaatannya.
5. Sabar terhadap kesusahan berdakwah ke jalan Allah. Dakwah ke jalan Allah adalah suatu usaha mulia dan suci. Ia adalah warisan daripada rasul dan nabi, mempunyai halangan dari musuh kebenaran dan kebaikan.
Harus diingat, dakwah kepada jalan Allah dan agama-Nya sangat bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsu, dengan adat dan tradisi, keseronokan dan kerehatan, pangkat dan kedudukan, bahkan kekayaan dan kekuasaan.
Berpandukan kepada pengertian itu, sabar adalah satu istilah yang mengandungi pelbagai makna dan nama.
Contohnya menahan diri di medan perang disebut berani (as-saja'ah), lawannya bacul (al-jubn), manakala menahan diri daripada suatu keinginan nafsu Arabnya disebut 'dabtun nafs' dan lawannya 'al-batr'.
Sabar adalah senjata terpenting manusia, lebih-lebih lagi diri manusia sentiasa menghadapi pelbagai ujian. Dengan sifat ini membolehkan manusia mengatasi ujian dan mencapai kejayaan.
Banyak nas yang memerintah kita bersifat sabar, antaranya bermaksud: "Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap sedia (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali-Imran:200)
Cendekiawan membahagikan sifat sabar kepada beberapa jenis, iaitu:
1. Sabar terhadap kesusahan dan bala bencana yang menimpa pada manusia biasa, bahkan di kalangan nabi.
Antara yang dirumuskan al-Quran ialah sabar dalam bentuk ini termasuklah bersabar dengan kefakiran atau kelaparan, bersabar terhadap kesakitan, ketika peperangan dan ketakutan, kerana kehilangan wang, kehilangan jiwa dan harta benda.
2. Sabar terhadap keinginan nafsu yang menjadi urusan syaitan. Antaranya sabar atas tarikan dan runtunan nafsu yang rendah dan hina, termasuk bersabar dari menurut perasaan marah.
3. Sabar terhadap kemewahan. Ini termasuk bersabar terhadap kenikmatan orang lain, seperti orang kafir dan golongan taghut yang pada lahirnya nikmat tetapi pada batinnya adalah azab.
4. Sabar terhadap ketaatan yang sememangnya banyak halangan. Nafsu itu tabiatnya liar dan tidak suka kepada pengabdian, malah malas pula untuk melaksanakan amal ketaatan.
Kesabaran ini memerlukan tiga peringkat:
• Sebelum dapat melaksanakan sesuatu ketaatan, perlulah memperbaiki niat dan ikhlas, sabar daripada riak yang merosakkan dan sabar untuk menguatkan keazaman.
• Ketika mengerjakan ketaatan, hendaklah sentiasa berjaga dan berwaspada daripada faktor yang boleh melemahkannya.
• Selepas mengerjakannya hendaklah bersifat sabar daripada melakukan suatu yang membatalkan amal ketaatannya.
5. Sabar terhadap kesusahan berdakwah ke jalan Allah. Dakwah ke jalan Allah adalah suatu usaha mulia dan suci. Ia adalah warisan daripada rasul dan nabi, mempunyai halangan dari musuh kebenaran dan kebaikan.
Harus diingat, dakwah kepada jalan Allah dan agama-Nya sangat bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsu, dengan adat dan tradisi, keseronokan dan kerehatan, pangkat dan kedudukan, bahkan kekayaan dan kekuasaan.
Ujian ukur tahap takwa
HIDUP kita di dunia ini tidak lebih pengembara yang sedang berteduh di bawah naungan sebatang pokok di tengah padang pasir yang terbentang luas. Selepas itu kita akan berlalu meninggalkannya.
Rasulullah bersabda, maksudnya: "Hidup aku di dunia ini diibaratkan pengembara di atas kenderaan, kemudian berhenti berteduh di bawah pokok yang rendang, kemudian aku berlalu."
Kita menikmati kehidupan di dunia ini juga tidak lebih daripada untuk menghadapi ujian Allah, yang dapat mengukur sejauh mana tahap ketakwaan kita terhadap Allah bukannya semata-mata berseronok.
Jika tidak diuji dengan pelbagai cubaan yang sebahagian besarnya adalah perkara tidak diingini oleh nafsu manusia, sudah tentu kita tidak dapat membuktikan diri kita sebagai seorang yang bertakwa.
Ada orang mengatakan kekayaan itulah matlamat hidup di dunia tetapi ia tidak benar kerana kekayaan tidak dapat melahirkan kesejahteraan. Kadangkala harta kekayaan lesap dalam waktu yang singkat.
Sekiranya ada orang mengatakan kecantikan adalah matlamat hidupnya, itu juga salah, kerana kecantikan akan pudar apabila sampai waktunya.
Jika pangkat, darjat dan pengaruhnya boleh mencapai matlamat hidupnya, ia juga salah, kerana ia tidak kekal, ada turun naik, malah boleh lenyap.
Hakikatnya, yang kekal abadi dalam hidup kita di dunia ini ialah keredaan Allah. Justeru, fahamilah hidup kita di dunia ini ialah sementara saja dan akhirat juga yang kekal selama-lamanya.
Justeru, dalam mengejar dunia, berpada-padalah dan jangan sampai bekal untuk kehidupan di akhirat keciciran.
Rasulullah bersabda, maksudnya: "Hidup aku di dunia ini diibaratkan pengembara di atas kenderaan, kemudian berhenti berteduh di bawah pokok yang rendang, kemudian aku berlalu."
Kita menikmati kehidupan di dunia ini juga tidak lebih daripada untuk menghadapi ujian Allah, yang dapat mengukur sejauh mana tahap ketakwaan kita terhadap Allah bukannya semata-mata berseronok.
Jika tidak diuji dengan pelbagai cubaan yang sebahagian besarnya adalah perkara tidak diingini oleh nafsu manusia, sudah tentu kita tidak dapat membuktikan diri kita sebagai seorang yang bertakwa.
Ada orang mengatakan kekayaan itulah matlamat hidup di dunia tetapi ia tidak benar kerana kekayaan tidak dapat melahirkan kesejahteraan. Kadangkala harta kekayaan lesap dalam waktu yang singkat.
Sekiranya ada orang mengatakan kecantikan adalah matlamat hidupnya, itu juga salah, kerana kecantikan akan pudar apabila sampai waktunya.
Jika pangkat, darjat dan pengaruhnya boleh mencapai matlamat hidupnya, ia juga salah, kerana ia tidak kekal, ada turun naik, malah boleh lenyap.
Hakikatnya, yang kekal abadi dalam hidup kita di dunia ini ialah keredaan Allah. Justeru, fahamilah hidup kita di dunia ini ialah sementara saja dan akhirat juga yang kekal selama-lamanya.
Justeru, dalam mengejar dunia, berpada-padalah dan jangan sampai bekal untuk kehidupan di akhirat keciciran.
Kejar dunia usah sampai lupa akhirat
MALAS adalah satu penyakit. Ia menimpa semua orang termasuk remaja. Malas ada bermacam ragam, ada malas belajar, malas kerja, malas bercakap, malas makan serta seribu satu macam jenis malas lagi.
Malas ada risiko dan akibatnya, tetapi apa yang menakutkan adalah kalau malas beribadat.
Akibat dan risiko malas yang lain boleh ditanggung, tetapi kalau malas beribadat tidak mampu ditanggung rasanya. Siapa yang sanggup menanggung azab sengsara dibakar api neraka.
Perhatian kita terhadap penyakit malas ibadat amat menurun dan corot terutama terhadap anak remaja kita.
Lihat saja kalau anak kita tidak ke kelas tambahan atau tuisyen, bukan main marah kita maki dan kadang-kadang pukul mereka.
Berbanding keadaan kalau anak kita tidak menunaikan solat, puasa atau anak gadis tidak menutup aurat, tidak kita dengar suara menyuruh atau berleter.
Kadang-kadang yang kita temui apabila emak atau ayah menyuruh adalah yang tolong bela. “Kasihan budak tu...biarlah dia tidur, di asrama tak cukup tidur...,” bela emak pada anaknya yang balik bercuti.
Kita memberi perhatian kepada pelajaran yang akan memberi skor ‘A’ dalam peperiksaan, tetapi bagi pelajaran fardu ain, kita buat tidak endah saja.
Sebenarnya ini penyuburan nilai tidak prihatin kita yang ditanamkan terhadap anak tanpa kita sedari. Kita lebih khuatir masa depan dunia anak kita daripada masa depan agama mereka.
Dunia memang penting. Islam tidak pernah menolak dunia yang sehingga al-Quran mewasiatkan dalam
Malas ada risiko dan akibatnya, tetapi apa yang menakutkan adalah kalau malas beribadat.
Akibat dan risiko malas yang lain boleh ditanggung, tetapi kalau malas beribadat tidak mampu ditanggung rasanya. Siapa yang sanggup menanggung azab sengsara dibakar api neraka.
Perhatian kita terhadap penyakit malas ibadat amat menurun dan corot terutama terhadap anak remaja kita.
Lihat saja kalau anak kita tidak ke kelas tambahan atau tuisyen, bukan main marah kita maki dan kadang-kadang pukul mereka.
Berbanding keadaan kalau anak kita tidak menunaikan solat, puasa atau anak gadis tidak menutup aurat, tidak kita dengar suara menyuruh atau berleter.
Kadang-kadang yang kita temui apabila emak atau ayah menyuruh adalah yang tolong bela. “Kasihan budak tu...biarlah dia tidur, di asrama tak cukup tidur...,” bela emak pada anaknya yang balik bercuti.
Kita memberi perhatian kepada pelajaran yang akan memberi skor ‘A’ dalam peperiksaan, tetapi bagi pelajaran fardu ain, kita buat tidak endah saja.
Sebenarnya ini penyuburan nilai tidak prihatin kita yang ditanamkan terhadap anak tanpa kita sedari. Kita lebih khuatir masa depan dunia anak kita daripada masa depan agama mereka.
Dunia memang penting. Islam tidak pernah menolak dunia yang sehingga al-Quran mewasiatkan dalam
Mentaati ibu bapa
BERBAKTI dan berbuat baik kepada ibu bapa satu perintah dan tanggungjawab yang wajib disempurnakan setiap individu bergelar anak tanpa mengira ibu bapanya itu beriman atau sebaliknya.
Dalam surah al-Isra', ayat 23 hingga 25, Allah menerangkan kepada kita supaya berbuat baik kepada mereka, maksudnya: "Dan Tuhanmu perintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya dan hendaklah engkau berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa.
"Jika seorang atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, janganlah engkau berkata kepada kedua-duanya sekalipun perkataan 'ah', dan janganlah engkau menengking mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
"Dan rendahkanlah dirimu kepada kedua-duanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah: Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka memelihara dan mendidikku ketika kecil.
"Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada di hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sesungguhnya Ia adalah Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat."
Melalui nas terbabit jelas sekali kepada kita, berbakti kepada orang tua bukanlah perkara yang boleh dibuat main-main dan boleh dipandang ringan kerana ia adalah suatu perintah yang mesti dilakukan.
Bahkan berbakti dan berbuat baik kepada mereka tergolong dalam amalan yang sangat disukai Allah. Ini sebagaimana hadis diriwayatkan dalam Sahih Bukhari daripada Abdullah, katanya:
"Aku bertanya kepada Nabi s.a.w, amalan manakah paling disukai Allah Azza Wajalla? Baginda menjawab, solat pada waktunya. Abdullah berkata, kemudian apa? Baginda menjawab, kemudian bakti kepada kedua orang tua. Dia berkata lagi, kemudian apa? Baginda menjawab, jihad pada jalan Allah."
Hadis berkenaan menunjukkan besarnya kedudukan ibu bapa dalam Islam. Berbakti dan berbuat baik kepada ibu bapa amalan terbaik yang patut didahulukan daripada perkara lain, termasuk berjihad.
Menurut al-Qurthubi, termasuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua ialah tidak mencacinya dan menderhaka kepada mereka.
Jika ibu bapa atau seorang daripada mereka menyuruh si anak, wajib anak mentaatinya apabila perintah itu bukan membabitkan perkara yang mengundang dosa dan kemurkaan Allah.
Kita mempunyai ibu bapa dan kita sepatutnya bersyukur kepada mereka. Dengan adanya mereka, kita lahir ke dunia dan dapat mengenal segala isinya, malah dengan jasa mereka kita mendapat kenikmatan berlimpah ruah.
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu, hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)
Bagaimana bersyukur? Antaranya, kita memikul tanggungjawab terhadap mereka, dengan mengambil berat kebajikan mereka setiap waktu, memberikan bantuan serta menjaga dan mengambil tahu makan pakai mereka.
Sebagai anak, kita juga perlu menjaga hubungan dengan ibu bapa dan memastikan sentiasa akrab walaupun apabila sudah dewasa dan mempunyai rumah tangga sendiri.
Perbuatan derhaka dilarang sama sekali. Mereka yang menderhaka berdosa besar. Dalam satu hadis menerangkan derhaka kepada ibu bapa adalah dosa besar selepas syirik.
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik, Nabi s.a.w pernah menceritakan mengenai dosa besar. Baginda bersabda yang bermaksud: "Menyekutukan Allah, menderhaka kedua-dua ibu bapa, membunuh dan berkata dengan kata-kata palsu." (Hadis riwayat Muslim)
Menurut hadis nabi juga, orang yang derhaka pada ibu tidak mencium bau syurga. Dalam satu kisah, sahabat Nabi s.a.w bernama Alqamah, seorang yang kuat beribadat, tetapi apabila di saat kematiannya dia tidak dapat mengucap syahadah kerana perbuatannya menyinggung hati ibunya, akibat terlalu cinta kepada isterinya.
Melihat keadaannya yang nazak, Nabi mengancam untuk membakarnya, tetapi apabila ibunya datang dan memaafkannya, azab yang menimpa Alqamah berakhir.
Peristiwa terbabit wajar dijadikan iktibar kepada semua di antara kita. Janganlah kerana isteri hak ibu terabai dan disebabkan suatu perkara remeh, tergamak meninggikan suara terhadap ibu sendiri.
Hayatilah sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Reda Tuhan (Allah) ada dalam reda kedua-dua ibu bapa dan kemurkaan-Nya ada dalam kemurkaan kedua-duanya." (Hadis riwayat al-Tabrani)
Dalam surah al-Isra', ayat 23 hingga 25, Allah menerangkan kepada kita supaya berbuat baik kepada mereka, maksudnya: "Dan Tuhanmu perintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya dan hendaklah engkau berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa.
"Jika seorang atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, janganlah engkau berkata kepada kedua-duanya sekalipun perkataan 'ah', dan janganlah engkau menengking mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
"Dan rendahkanlah dirimu kepada kedua-duanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah: Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka memelihara dan mendidikku ketika kecil.
"Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada di hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sesungguhnya Ia adalah Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat."
Melalui nas terbabit jelas sekali kepada kita, berbakti kepada orang tua bukanlah perkara yang boleh dibuat main-main dan boleh dipandang ringan kerana ia adalah suatu perintah yang mesti dilakukan.
Bahkan berbakti dan berbuat baik kepada mereka tergolong dalam amalan yang sangat disukai Allah. Ini sebagaimana hadis diriwayatkan dalam Sahih Bukhari daripada Abdullah, katanya:
"Aku bertanya kepada Nabi s.a.w, amalan manakah paling disukai Allah Azza Wajalla? Baginda menjawab, solat pada waktunya. Abdullah berkata, kemudian apa? Baginda menjawab, kemudian bakti kepada kedua orang tua. Dia berkata lagi, kemudian apa? Baginda menjawab, jihad pada jalan Allah."
Hadis berkenaan menunjukkan besarnya kedudukan ibu bapa dalam Islam. Berbakti dan berbuat baik kepada ibu bapa amalan terbaik yang patut didahulukan daripada perkara lain, termasuk berjihad.
Menurut al-Qurthubi, termasuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua ialah tidak mencacinya dan menderhaka kepada mereka.
Jika ibu bapa atau seorang daripada mereka menyuruh si anak, wajib anak mentaatinya apabila perintah itu bukan membabitkan perkara yang mengundang dosa dan kemurkaan Allah.
Kita mempunyai ibu bapa dan kita sepatutnya bersyukur kepada mereka. Dengan adanya mereka, kita lahir ke dunia dan dapat mengenal segala isinya, malah dengan jasa mereka kita mendapat kenikmatan berlimpah ruah.
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu, hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)
Bagaimana bersyukur? Antaranya, kita memikul tanggungjawab terhadap mereka, dengan mengambil berat kebajikan mereka setiap waktu, memberikan bantuan serta menjaga dan mengambil tahu makan pakai mereka.
Sebagai anak, kita juga perlu menjaga hubungan dengan ibu bapa dan memastikan sentiasa akrab walaupun apabila sudah dewasa dan mempunyai rumah tangga sendiri.
Perbuatan derhaka dilarang sama sekali. Mereka yang menderhaka berdosa besar. Dalam satu hadis menerangkan derhaka kepada ibu bapa adalah dosa besar selepas syirik.
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik, Nabi s.a.w pernah menceritakan mengenai dosa besar. Baginda bersabda yang bermaksud: "Menyekutukan Allah, menderhaka kedua-dua ibu bapa, membunuh dan berkata dengan kata-kata palsu." (Hadis riwayat Muslim)
Menurut hadis nabi juga, orang yang derhaka pada ibu tidak mencium bau syurga. Dalam satu kisah, sahabat Nabi s.a.w bernama Alqamah, seorang yang kuat beribadat, tetapi apabila di saat kematiannya dia tidak dapat mengucap syahadah kerana perbuatannya menyinggung hati ibunya, akibat terlalu cinta kepada isterinya.
Melihat keadaannya yang nazak, Nabi mengancam untuk membakarnya, tetapi apabila ibunya datang dan memaafkannya, azab yang menimpa Alqamah berakhir.
Peristiwa terbabit wajar dijadikan iktibar kepada semua di antara kita. Janganlah kerana isteri hak ibu terabai dan disebabkan suatu perkara remeh, tergamak meninggikan suara terhadap ibu sendiri.
Hayatilah sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Reda Tuhan (Allah) ada dalam reda kedua-dua ibu bapa dan kemurkaan-Nya ada dalam kemurkaan kedua-duanya." (Hadis riwayat al-Tabrani)
Subscribe to:
Posts (Atom)
